i belive i can fly

Air dari Cadas

Masa muda adalah masa yang paling menyenangkan dan pasti dikenang oleh siapapun insan didunia ini, terlebih lagi ketika masa muda itu diisi dengan pengalaman pengalaman yang menarik untuk dikenang sepanjang masa, dari pergaulan bersama teman sekolah, teman dekat rumah, masa berpacaran, kekompakan suatu kelompok hingga kumpulan kumpulan tak resmi lainnya yang kesemuanya itu menjadi kenangan terindah dalam hidup yang beberapa diantaranya diabadikan lewat photo, goresan nama di pohon, tulisan bahkan ada sebagian orang yang rela menuliskan kenangan nya berbentuk tatto di tubuh agar selalu di ingat. Sungguh masa muda memang sulit untuk dilupakan, Beberapa pengalaman masa lalu ku juga menyenangkan untuk diingat dan banyak pengalaman yang indah yang aku rasakan, namun ada satu kenangan yang tak mungkin bisa kulupakan ketika usiaku menginjak 20 tahun.

Ketika matahari mulai memancarkan sinarnya dipagi hari, dan burung burung mulai berterbangan untuk mencari makan, ketika para pekerja bergegas meninggalkan rumahnya untuk mencari nafkah dan bisingnya  suara kendaraan yang mulai beraktifitas, akupun terbangun dari tidurku, namun sungguh tidak bisa dipercaya…….seperti ombak menelan matahari…..tak sedikitpun terpikir dalam otakku, seperti mimpi, Masih dengan perasaan tidak percaya aku mencoba menutup mataku  dan membukanya kembali, aku berharap ini hanyalah mimpi buruk ku, namun aku tetap tidak bisa menggerakan semua tubuhku, setelah beberapa kali mencoba sekuat tenaga,  dengan penuh kekecewaan baru kusadari bahwa  aku telah lumpuh.

Pupus sudah semua keinginan yang ada dalam benakku,  bagai menelan pil pahit, stress yang mendalam  yang tak pernah kualami kini setiap hari menghantui pikiranku, kecewa, bimbang, emosi, malu menjadi santapanku sehari hari, mau tidak mau, suka tidak suka  semua bercampur memenuhi isi kepalaku mengisi hari hariku…. seakan tak ada jalan lagi didepan mataku, hari hariku hanya diisi dengan Doa, namun seakan tak terdengar oleh Tuhan…perasaan cemas,  gelisah dan rasa takut yang mendalam datang silih berganti tak pernah henti sampai terlelah aku dibuatnya, keluargaku yang hidup dengan sederhana  sangat terpukul melihat keadaanku, terlebih kedua orangtuaku…mereka sangat kecewa dan sedih dengan keadaanku, tak tersisa lagi kekuatan dalam diriku…sungguh Tuhan tidak adil…itu yang selalu ada dalam pikiranku  kala itu.

Atas permintaan dari kepala kantor dimana bapaku mengais rejeki, aku dipindahkan dari rumah sakit tugu ibu depok ke rumah sakit graha medika didaerah kebon jeruk untuk menjalani perawatan,  selama beberapa minggu kelumpuhanku, pemeriksaan pun mulai membuahkan hasil, rupanya aku terkena penyakit Hypo kalium, dan ada obatnya…akupun mulai bisa tersenyum. namun keadaanku tak pernah pulih seperti hari hari yang lalu, penyakit itupun datang dan datang lagi, dan hal yang paling membuat aku kecewa ketika dokter menyatakan bahwa seumur hidupku aku akan tergantung dengan obat…sungguh tidak bisa kuterima kenyataan ini…..

Beberapa tahun setelah aku bekerja di indramayu, hari hariku tak lepas dari obat, akupun mulai rajin berdoa tanpa kenal lelah sampai suatu hari keyakinanku muncul untuk membuang obatnya dan berharap dengan pasti Tuhan mau merubah hidupku, karena aku yakin Tuhan pasti sanggup menyelesaikan masalahku,  aku yakin Dia pasti menggendong ku, namun apa yang terjadi…beberapa hari setalah obat itu ku buang…….penyakit itupun datang lagi dan akupun kembali mengalami kelumpuhan, kepedihan tak pernah jauh dariku, kekecewaan dan putus asa mulai datang  menghantuiku, akupun dikirim kerumah sakit di daerah cirebon untuk kembali menjalani perawatan, Setelah tujuh hari keadaanku mulai membaik, tentunya dengan meminum obat yang sama, namun aku belum boleh pulang dan masih menunggu hasil analisa dari rumah sakit.

Hari itu hari Sabtu, hari libur untuk  instansi tempatku bekerja dan rumah sakit tempatku dirawat, dimana semua aktifitas rumah sakit hanya diawasi oleh  dokter jaga yang hanya boleh mengawasi dan merawat  pasien yang ada dan tidak boleh mengambil keputusan penting.

Pagi itu dengan seragam pasien aku dan beberapa teman pasien lainnya duduk duduk di depan teras kamar rawat inap untuk menikmati sinar matahari pagi, seorang bapak  tua yang gagah dengan penampilan yang rapih mengenakan sepatu putih, celana panjang putih dan kemeja ala hawaii dengan topi tikar putih berbentuk topi koboy yang sepertinya ingin pergi ketempat wisata itupun berjalan dihadapanku dengan santai, paling dia mau besuk anaknya…pikirku,  ketika beberapa meter sudah langkahnya melewatiku, bapak itupun berhenti dan berbalik sambil melihat mataku, dengan santainya aku membalikan muka umtuk tidak melihatnya…. karena memang aku tidak mengenalnya,  dia menghampiriku dan bertanya…..”kamu sakit …?”….iya…jawabku datar, sakit apa…?…dengan acuh aku menjawab pertanyaan nya….”nggak tau”, lalu dia meminta berkasku dari dokter jaga yang kebetulan melintas di depan kamarku, setelah beberapa saat dibacanya, orang yang tidak pernah kukenal itupun berkata…kalo kamu mau sembuh…buang aja obatnya dan kalo kamu mau pulang…kamu bisa pulang sekarang…nggak usah nunggu dokter…,  saya pun terheran atas ucapannya, siapakah orang yang tidak aku kenal ini…..? ? ? ?, kenapa dia menyuruhku membuang obatku…?, .dan mengapa dia suruh aku pulang sekarang…?, karena dia bukan dokter kepala yang kukenal..dan dia hanya orang asing yang kebetulan melintas di depanku…sungguh aku terheran dibuatnya, bahkan dokter jaga pun berjalan meninggalkan kami begitu saja.

Dengan separuh yakin mengikuti ucapannya akupun mengemasi pakaianku dan membuang obatku ke tong sampah dengan semangat dan bersiap  meninggalkan rumah sakit, sebelum aku beranjak….orang yang tidak pernah kukenal itupun memberikan saran agar aku menyempatkan diri untuk  singgah di tengah perjalanan nanti…  untuk minum air kelapa muda supaya sehat ….disalah satu warung dipinggir jalan arah  pulang ke indramayu, masih dengan setengah percaya…akupun menuruti saja apa yang dikatakannya…..

Sungguh Indah Kabar Mulia,  dari hari sabtu dihari itu..hingga saat ini…aku tak pernah lagi menyentuh obat obatan, penyakit yang dulu selalu menghantui ku kini seakan hilang ditelan bumi.

Sungguh aku percaya……Tuhan tak pernah jauh dari ku……

Sungguh aku percaya Dia menggendong aku……

Sungguh nyata perbuatan Tuhanku…

Sungguh Dia menyelesaikan masahku… bagaikan rusa rindu sungai……bagaikan air yang keluar di tengah cadas, begitu juga kasih setia NYA…..sedalam lautan….seputih pasir di pantai……Sungguh Abadi Selamanya.

Mintalah, maka kamu akan diberikan, Ketuklah, maka pintu akan dibukakan, dan Percayalah, Tuhan akan selalu menjaga  mu.

Perlahan mulai terdengar  lagi akhir dari bait yang sering kunyanyikan diusiaku yang masih muda

“Jika aku kehausan dan langkahku tak tetap…dari cadas didepanku datang air yang segar”

bersama komunitas Aeromodelling Indonrsia

TUHAN jadikanlah diriku sebagai pribadi yang berguna bagi orang banyak demi kemuliaan namaMU

dari sekarang sampai selama lamanya…..Amin.

Iklan

Doa yang Membebani

Setiap manusia punya persepsi yang berbeda tentang Doa, yang selalu dipanjatkan dalam suatu ungkapan komunikasi yang beragam kepada  Sang pencipta, banyak macam Doa yang keluar dari setiap mulut insan, dibumi yang sudah semakin tua ini dengan beragam pengharapan berdasarkan keberadaannya, mulai dari himpitan ekonomi, masalah perut, masalah rumah tangga, kesehatan, karir dan kesuksesan, dan masih banyak lagi Doa doa yang tak terhitung jumlahnya yang selalu dipanjatkan oleh seluruh insan dimuka bumi ini.

Namun Doa tidak saja diungkapkan sebagai permohonan dan  pengharapan saja, tetapi juga sebagai ungkapan rasa syukur kepada sang pencipta atas segala yang sudah kita terima dan rasakan, mulai dari Kesehatan, Kekuatan serta Berkat yang melimpah yang Tuhan sudah berikan kepada kita serta berbagai kesuksesan yang telah kita raih yang semuanya itu kita awali dengan Doa sebelumnya.

Aku percaya bahwa Tuhan adalah pencipta Langit dan Bumi serta segala isinya, dan akupun juga percaya bahwa Dia juga yang menciptakan segala Bangsa di dunia dengan segala bahasanya……sehingga semua umat didunia boleh berharap dan bersyukur kepada NYA dalam ungkapan sebuah Doa.

Dalam kehidupan di jaman yang semakin tak menentu saat ini, tak sedikit orang yang mulai melupakan arti dari  Doa yang sebenarnya, banyak dari mereka mulai menganggap Doa sebagai kegiatan yang biasa biasa saja dan tidak  mempunyai nilai tambah dalam  kehidupan, dengan salah satu alasan  karena banyak dari Doa-doa mereka yang sampai saat ini belum terkabulkan (walaupun tak pernah terucapkan dalam kata kata), sehingga rasa kepercayaan mereka kepada Sang Pencipta mulai menipis, merekapun mulai mencari jalan pintas untuk meraih apa yang mereka inginkan walaupun harus  membayar dengan mahal.

Ditunggangi sifat egois yang tinggi dan keserakahan yang mendalam  membawa mereka masuk dalam jurang pemikiran yang berbeda, sehingga dengan seenaknya mereka meminta apa saja yang mereka inginkan dari Tuhan dalam Doanya, dan mereka sangat berharap Doanya dapat dikabulkan karena kebutuhan yang mendesak dan tidak bisa ditawar tawar lagi, bahkan banyak dari   Doa doa yang mereka panjatkan hanya mementingkan diri sendiri tanpa mempedulikan orang lain.

Dan ketika harapan tak kunjung datang, keadaan tak juga berubah, impian mulai sirna bagai ditelan bumi, dengan mudah kekecewaan mulai datang menghantui isi kepala mereka dengan berbagai cara dan semakin membawa mereka kedalam jurang keputus asaan dan mulai menjauh dari rancangan dan rencana Tuhan.

Siapakah Tuhan ……menurut kita…?

Siapakah kita ……dihadapan Tuhan…?

Siapakah diri kita….?

Orang orang yang tak ingin menjawab dengan alasan tak sempat dan tak punya waktu untuk menjawab lebih memilih meniggalkan pertanyaan diatas dan terus berlari mencari harapan kepada orang orang yang dianggap sakti dan sanggup dalam memenuhi harapan dan impian mereka.

Teringat aku akan doa yang dipanjatkan oleh tiga pokok tunas pohon pinus yang tumbuh berdekatan di sebuah hutan dekat perkampungan,  tunas yang pertama berharap kalau besar nanti ingin menjadi ” tempat tidur yang mewah untuk seorang raja”,  tunas yang kedua ingin menjadi “kapal yang mewah”, sedangkan tunas yang ketiga berharap ingin menjadi  “sebuah menara yang tinggi” dengan harapan bisa dikenal di seluruh punjuru dunia.

namun dalam perjalanan waktu, ketika pohon-pohon itu menjadi besar….kedaan mulai berubah, harapan pun mulai sirna, daun daun mulai berguguran dan ranting-ranting mulai berjatuhan ketanah…..ketiga pohon itupun mulai ditebang dan dirubuhkan.

Batang pohon yang pertama dibuat papan dan dijadikan kandang kambing dan tempat makannya.

Batang pohon yang kedua dibuat menjadi perahu nelayan yang kecil untuk menangkap ikan di laut.

Batang pohon yang ketiga hanya dibuat berbentuk balok balok dan diletakan di samping rumah sang pemilik.

Karena keyakinannya yang tak tergoyahkan, seperti matahari yang selalu menepati janji bersinar dipagi hari, seperti pelangi yang selalu muncul setelah hujan dan seperti sungai yang  mengalir tanpa lelah…..semua kepedihan berubah menjadi senyuman…

Disanalah Seorang Raja dilahirkan, didalam palungan disebuah kandang  kambing/domba yang sangat menggemparkan dunia, dan diatas perahu nelayan kecil itulah Tuhan pernah  berkhotbah kepada para hambanya ditepi sungai galilea, dan dengan  balok balok yang dibentuk itulah Tuhan kita disalibkan …sehingga dapat dikenang diseluruh penjuru dunia …dari dahulu, saat ini, dan   sampai selama lamanya.

“Tetapi rencana KU…bukan rencanamu”  (manusia boleh berencana, tetapi Tuhan diatas segalanya)

dengan rancangan NYA kita dibentuk untuk menjadi pribadi pribadi yang selalu percaya kepada NYA

Bersihkanlah hati mu dari segala kotoran yang berdiam didalamnya……dan Arahkanlah pikiranmu kepadaNYA dan Pujilah nama NYA………. Tuhan Selalu menjagamu.

Hidup adalah Tragedi

“Dia datang ke dunia,
tetapi dunia menolak Nya,
inilah gambaran manusia,
yang tidak kenal Penciptanya.

Seorang kakek yang terlihat sangat lelah dengan suara nafas yang terdengar agak keras mengeluarkan saputangan dari kantong celana yang baru disetrikanya tadi pagi, hendak mengusap keringat yang keluar dari wajahnya. Tiba tiba dihampiri oleh pemuda yang ternyata reporter dari stasiun TV suwasta ternama di jakarta, tanpa basa basi pemuda itu bertanya kepada kakek tentang keadaannya,

Dengan nada setengah mengeluh sang kakek yang ternyata mantan pejuang kemerdekaan yang hari ini mendapat undangan kehormatan untuk mengikuti upacara HUT RI di Istana Negara pagi ini pun menjawab, “saya kan orang tua, pensiunan, kesini aja tadi numpang ojek tapi di setopin sama tentara di ujung jalan sana, terus saya disuruh jalan kaki sampe sini, sedangkan yang pake jas… semuanya di jemput mobil sampe tempat acara”………

Dengan nada kesal ia pun melanjutkan ucapannya….”kalo gini caranya….orang kaya aja yang merdeka, orang kecil mah berjuang terus”

Tulisan di atas adalah kisah pahit sebagian kecil mantan pejuang negara ini yang dulu dengan gagah berani mempertaruhkan nyawa nya demi sebuah kemerdekaan yang selalu di mimpikan sampai saat ini, karena kurangnya perhatian dari para penguasa negara ini.

Di jaman moderenisasi sekarang ini, Masih banyak diantara kita yang belum merasakan kemerdekaan di negara yang sudah lama merdeka ini.
berat nya beban dan kemiskinan yang mereka rasakan sejak mereka lahir membuat mereka terus bertahan hidup dengan penuh kekurangan.

Buah Kurma yang terkenal manis dan segar saat ini dapat kita beli di banyak mini market di sekitar kita, namun tanpa kita ketahui, tersimpan rapat dalam biji nya tentang perjuangan pahit pokok pohon kurma dalam kehidupan nya.

Bersyukurlah atas apa yang sudah tuhan berikan kepada kita, dan jadikanlah dirimu berkat buat orang lain,
karena Kasih Tuhan kepada kita tiada berkesudahan, dari kemarin, hari ini dan selamanya.

Anak Tongkrongan

Dari judul di atas, hampir semua orang mempunyai arah pikiran yang sama tentang arti dan makna dari kata “Anak Tongkrongan”

Sebagian besar Orang menilai bahwa anak anak tongkrongan / anak anak yang suka nongkrong dan ngumpul2 di warung pinggir jalan, di tikungan2 jalan, didepan warnet, atau di tempat ngumpul yang tidak resmi lainnya adalah anak2 yang jauh dari orang tua, lepas dari kontrol orang tua, anak2 jalanan, anak2 berandalan, anak2 tanpa masa depan dan masih banyak pemikiran2 yang negatif lainnya yang keluar dari otak mereka ketika melihat anak2 tongkrongan.
Pemerintah pun kadang menggolongkan mereka pada kelompok penggangguran atau anak2 putus sekolah.

Mereka boleh saja mengartikan anak2 itu sebagai apa saja, dan akupun sangat memaklumi akan pikiran mereka, karena mereka tidak termasuk didalamnya, bahkan beberapa orang tua pun melarang anak2 mereka untuk nongkrong dengan teman2 nya.

Aku adalah salah satu dari mereka …”Anak Tongkrongan”

teringat pesan mendiang ayahku sewaktu aku masih sekolah katanya, “kalau kamu diam dirumah saja… sampai kapanpun kamu tidak akan dapat apa2, tapi kalau kamu pergi keluar rumah…kamu akan dapat semua yang kamu cari….seperti pengalaman, teman banyak, informasi bahkan masa depan pun bisa kamu dapatkan di luar”.
dan “kamu harus pandai berteman, bila perlu…seluruh dunia kenal kamu “.

kata2 itu adalah satu2nya warisan dari orang tuaku yang selalu aku ingat sampai sekarang.

beranjak dari situlah aku dan beberapa kawan pemuda gereja yang sepaham mulai bergaul dengan banyak kalangan, mulai dari pengamen, tukang becak, pengais sampah, supir angkot, buruh pabrik, kuli bangunan dan juga para eksekutive muda yang hanya mau didengar suaranya tanpa mau mendengarkan suara orang kecil.

mayoritas aku bergaul dengan orang orang kelas dua (sebutan untuk orang2 tidak mampu dari orang2 berduit saat ini).
setiap hari kegiatan kami adalah nongkrong dengan mereka, bertukar komunikasi, saling mengisi saling membantu memecahkan berbagai masalah yang muncul dari pagi, siang, hingga malam, bahkan sering kami tidak pulang kerumah hingga beberapa hari.

pergaulan ku dan kawan2 pemuda gereja membawa aku masuk dan bergabung dengan sebuah yayasan di depok yang bertugas menangani anak2 yang tak punya masa depan, buruh pabrik yang mencari keadilan, gelandangan dan juga para PSK (pekerja seks komersial) kelas teri, yang beroperasi di kolong2 jembatan tol di ibukota dengan tarif yang sangat murah.

dari semua pergaulan yang aku dapati, tak satupun terlintas di benakku tentang pemikiran yang negatif terhadap semua orang yang aku temui.

karena aku yakin, Tuhan menciptakan manusia menurut rupa NYA, dan semua manusia yang diciptakan NYA adalah sama dan sejajar dihadapan NYA,

“Uang bukanlah ukuran dari suatu Kebahagiaan”, tetapi kebahagiaan yang sesungguhnya hanya bisa dirasakan dengan ketulusan hati yang murni atas rasa syukur kita kepada sang Pencipta.

Sampai sekarang aku masih “Anak Tongkrongan”
karena buat aku……itu adalah bagian dari kebahagiaan hidup ku.

Judul di atas mengingatkan saya dan beberapa teman akan masa lalu di rumah seorang sahabat senior tempat kami belajar membentuk pribadi yang mandiri untuk menyambut masa depan yang belum terbayang seperti apa jadi nya.

Pada saat itu, sulit rasa nya mengartikan kata “terlalu banyak kata untuk satu jawaban” yang terpampang di dinding dengan tampilan yang biasa biasa saja.
kamipun hanya sekedar membacanya saja tapa mengetahui arti sebenarnya.

Hari demi hari, waktu terus berlari, melewati masa masa kebersamaan dengan beraneka ragam kejadian yang melintasi mata kehidupan kami.
usia berlari bak angin dari laut, pola pikir pun mulai berubah mengikuti arah sinar .

Ketika kesulitan mulai memerah, ketika alam mulai menggila dan ketika satu jawaban di butuhkan…
sungguh terheran aku mendengarnya……
tak satupun dari semua pertanyaanku di jawab dengan lugas, seperti angin yang meniup dengan panas,
seperti hujan yang turun di tengah terik, seperti buah yang dijual sebelum masak.

jawaban apa yang mereka berikan ketika mereka para koruptor mulai di mejahijaukan,
jawaban apa yang mereka lemparkan ketika rakyat kecil mulai dianaktirikan,
jawaban apa yang mereka pantulkan ketika mereka memberlakukan pemadaman bergilir,
jawaban apa yang mereka gulingkan ketika busway tidak menyelesaikan masalah kemacetan,
jawaban apa yang nereka muntahkan ketika penjara berubah menjadi apartemen…..
dan masih ribuan pertanyaan lagi yang selalu dijawab dengan suara angin…

masih adakah jawaban yang benar atas satu pertanyaan saja…?
masih adakah kata yang cocok untuk menjawab…?
masih adakah wajah yang putih untuk dapat menjawab…?

Mungkin inikah arti dari tulisan di dinding rumah seorang sahabat senior ku
Sungguh teringat aku akan masa lalu itu, ketika aku masih membaca tulisan nya…

“Doa adalah permohonan dan syukur yang selalu mendapatkan jawaban yang sempurna dari Sang Khalik”

Ulang Tahun

Kendis, seorang anak kecil terlihat asik duduk dengan separuh melamun di depan rumah nya, sambil menunggu kedua orang tua nya yang belum juga pulang meskipun hari sudah mulai terlihat senja.

Dengan perasaan cemas ia terus menunggu kedatangan orang tua nya yang bekerja di tempat pembuangan sampah akhir. maklumlah…karena mereka adalah para pemulung yang bertahan hidup dengan mengais sampah dan mengumpulkan barang barang bekas yang masih bisa di jual untuk kebutuhan hidup mereka.

mereka bekerja keras, hidup dari mengais sampah.

mereka bekerja keras, hidup dari mengais sampah.

Kecemasannya langsung hilang seketika dan berubah menjadi sebuah harapan kebahagiaan yang terpancar dari raut wajah dan tatap mata nya…ketika dia melihat dari kejauhan…
ayah dan ibu nya berjalan menuju ke arah nya…..

“ha ha ha ha…..pasti mereka membawa hadiah yang bagus buat aku…ciiihhuuuuiii”

ucapan kecil bertabur kegembiraan yang keluar dari mulut si kendis……karena hari ini dia berulang tahun, pantas saja dari tadi dia terlihat gelisah, rupanya sang ayah sudah menjanjikan kado ulang tahun untuk nya….

Sampai di rumah, ayah langsung memberi ucapan selamat ulang tahun kepadanya dengan sedikit nasehat, dan ciuman hangat dari ibu sambil menjulurkan sebuah kantong plastik hitam berisi kado ulang tahun kepadanya.

Dengan penuh rasa penasaran, dia membuka kado nya, dan……raut wajah nya berbinar binar melihat apa yang di dapat nya di hari kelahiran nya ini…
“horrreeee…….boneka berbi”…..
teriaknya penuh kegirangan……….meskipun hadiah ulang tahun yang diberikan kepadanya adalah boneka bekas yang didapat oleh ayah nya dari hasil mengais sampah hari ini, namun kegembiraan dan kebahagiaan yang terpancar dari wajah nya melebihi segala mimpi nya.

Sambil memeluk erat boneka yang baru di dapat nya, ia pun terlarut dalam pelukan ayah dan ibu nya

boneka barbie bekas, hadiah ulang tahun ku

boneka barbie bekas, hadiah ulang tahun ku

Harta dan kehidupan yang melimpah bukanlah ukuran dari suatu kebahagiaan, dan kebahagiaan yang sesungguhnya hanya dapat dirasakan atas rasa syukur kepada Sang Khalik yang selalu kita ungkapkan dalam sebuah Doa.

“Burung pipit yang kecil,
dikasihi Tuhan,
terlebih diriku … dikasihi Tuhan.

Bunga bakung dipadang,
diberi keindahan,
terlebih diriku … dikasihi Tuhan”

Selamat Ulang Tahun Kendis………
HPIM120050

Jejak kaki

jejak kaki
Semalam aku bermimpi sedang berjalan menyisir pantai bersama Tuhan.
Di cakrawala terbentang adegan kehidupanku. Pada setiap adegan aku melihat dua pasang jejak kaki di pasir, sepasang jejak kaki ku, dan sepasang lagi jejak kaki Tuhan.

Setelah adegan terakhir dalam kehidupan ku, terhampar di hadapan ku, aku menoleh ke belakang dan melihat jejak kaki di pasir, aku memperhatikan bahwa berkali kali sepanjang jalan hidup ku, terutama pada saat saat paling gawat dan mencekam, hanya terdapat sepasang jejak kaki saja.

Hal ini benar benar membuat aku sangat kecewa, maka aku bertanya kepada Tuhan…“Tuhan, dimanakah Engkau…?
Engkau memutuskan bahwa, bila aku mengikut Engkau, Engkau akan berjalan bersama aku di sepanjang hidup ku.
Namun aku memperhatikan bahwa pada saat saat paling gawat dan beban berat menindas hidupku, hanya terdapat sepasang jejak kaki saja, dan aku tidak mengerti mengapa pada waktu aku membutuhkan Engkau, justru Engkau meninggalkan aku”

Tuhan menjawab, “Anak KU, engkau sangat berharga di mata KU, Aku sangat mengasihi engkau, dan Aku tidak akan meninggalkan engkau.
Pada waktu engkau dalam bahaya dan dalam penderitaan, engkau hanya melihat sepasang jejak kaki saja, karenapada waktu itu Aku menggendong kamu”

Sampai masa tua mu Aku tetap DIA dan sampai masa putih rambut mu AKU menggendong kamu.
(Yesaya 46:4)

Awan Tag